Senin, 31 Januari 2011

Pendidikan bagi 2.201 Anak Miskin Kota

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak miskin di perkotaan sering kali diremehkan di sekolah dan di lingkungan sekitar. Semestinya kesempatan mereka untuk tampil di depan umum harus diperbesar untuk memperlihatkan kreativitasnya agar mereka lebih termotivasi, terinspirasi, dan lebih berani lagi mengejar mimpi-mimpi mereka.


Demikian diungkapkan Marryah Tinambunan, Operational Manager Indonesian Street Children Organization (ISCO) Foundation di Jakarta, Senin (30/1/2011), terkait pendampingan pendidikan ribuan anak miskin kota untuk mencegah mereka menjadi anak jalanan. Selama 11 tahun ISCO melakukan pendampingan tersebut terhadap sekitar 2.201 anak miskin perkotaan di wilayah Jakarta, Depok, Surabaya, dan Medan agar tidak menjadi anak jalanan atau pekerja anak di jalanan.

Marryah mengatakan, arus modernisasi di perkotaan membuat kebudayaan Indonesia yang sangat beraneka ragam dan begitu indah untuk dinikmati sering terlupakan, apalagi dengan semakin berkurangnya kegiatan anak muda terutama di perkotaan dalam mengembangkan seni tradisi Indonesia. Mereka juga tidak tertarik untuk mendalami aneka kebudayaan Nusantara, seperti tari dan musik tradisional Indonesia.

Merespons kondisi itulah, ISCO melibatkan 300 anak miskin kota dalam sebuah pergelaran seni budaya sebagai bentuk kepedulian untuk mengajak anak dan kaum muda guna menghidupkan kembali budaya Indonesia. Tema pergelaran seni budaya ini adalah "Bersatu dalam Keberagaman".

"Anak-anak miskin kota yang tinggal di wilayah kumuh Jakarta mewujudkan hak partisipasinya dengan ikut melestarikan kebudayaan Indonesia," kata Marryah di sela-sela acara pentas budaya tersebut di Jakarta, Minggu (30/1/2011).

Hak partisipasi anak-anak tersebut, lanjut dia, diwujudkan dalam sebuah pertunjukan budaya melalui tari-tarian tradisional, lagu-lagu daerah, drama tradisional, dan permainan musik angklung. Ia menambahkan, hal itu sesuai dengan Konvensi Internasional tentang Hak Anak (KHA) bahwa dalam tumbuh kembang mereka, partisipasi dalam melestarikan budaya Indonesia berarti memenuhi hak mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya sesuai pasal 12-15 KHA.

"Dalam konvensi internasional itu, juga dikatakan bahwa di negara tempat terdapat berbagai macam budaya dan bangsa, anak-anak berhak menikmati kebudayaannya sendiri," paparnya.

Negara juga harus mengakui hak anak untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan budaya, seni, dan juga mempromosikan hak anak untuk sepenuhnya berpartisipasi. Dengan kata lain, anak-anak yang tinggal di dalam budaya yang majemuk berhak melakukan toleransi dengan budaya lain.

Sejak berdiri pada Mei 1999, ISCO awalnya mensponsori 60 anak di dua area kumuh Jakarta. Terhitung sampai tahun ini, ISCO telah menjangkau 2.201 anak miskin di 29 area di Jakarta, Depok, Surabaya, dan Medan.

Lima program kerja utamanya adalah memberikan pendidikan gratis prasekolah hingga SMA, memberikan bantuan pendidikan/sekolah anak, membentuk dan mengelola sanggar kegiatan anak (SKA), memberi nutrisi tambahan dan kesehatan, serta memberikan perlindungan dan advokasi hak pendidikan anak.

"Seluruh anak dampingan kami memiliki akvitas sehari-hari di SKA. Ini untuk meminimkan waktu anak turun ke jalan atau mencegah mereka menjadi anak jalanan, pekerja anak," ujar Marryah.
Read More......

Psikologi dalam Pendidikan

KabarIndonesia - Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, maka perubahan-perubahan pesat terjadi pula dalam bidang pendidikan. Kurikulum sering dikenal revisi dan pengembangan, metode belajar megajar sudah sering mengalami perubahan dan pengembangan, dan sumber serta fasilitas belajar sering mengalami penambahan. Bahkan, abad teknologi telah melanda dunia pendidikan. Berbagai peralatan teknologi elektronik serta komputer mulai banyak dipergunakan di dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah.


Kenyataan di atas banyak memancing berbagai tanggapan. Bagaimanakah pengaruh penggunaan komputer dalam proses belajar mengajar? Memang dalam satu segi komputer dalam pendidikan mempercepat arus informasi. Apabila penggunaan komputer dikombinasikan dengan internet, hal ini akan memperluas jangkauan arus informasi ke segenap pelosok dunia secara hampir serentak. Pengaruh komputer yang paling cepat adalah segera membuka dinding peyekat setiap mata pelajaran, yang ini semua merealisasi cara belajar Gestalt. Salah satu bahaya dari cara pengajaran ini adalah adanya kecenderungan pelaksanaan aktivitas belajar secara mekanis dan tidak humanistis. Dengan perkataan lain, ada kekhawatiran akan diabaikannya peran psikologi dalam pendidikan.

Berbicara mengenai situasi pengajaran di Indonesia, kita tidak dapat menutupi kenyataan di mana sekolah-sekolah masih mengutamakan penguasaan konsep mata pelajaran. Akibatnya, peranan dan minat guru-guru ataupun murid-murid masih banyak dibatasi oleh pengawasan dari pihak pemerintah. Memang ada kemungkinan, bahwa keberhasilan pendidikan kita adalah tidak lepas hubungannya dengan keterampilan guru-guru dalam mengelola belajar mengajar. Pendidikan kita sekarang belum banyak memperhatikan minat dan kebutuhan anak didik. Pendidikan kita masih banyak berkutat dengan masalah-masalah kompetensi lembanga pendidikan serta pemenuhan kebutuhan dunia kerja akan tenaga kerja.

Dengan kenyataan di atas, maka sudah tiba masanya sekarang dimana pendidikan hendaknya lebih melayani kebutuhan dan hakikat psikologis anak didik. Pendidikan seharusnya mempunyai kreasi-kreasi baru di sepnjang waktu dengan berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik. Selama anak sekolah hanya menyenangi puisi-puisi daripada menulis naskah-naskah kreatif dan selama anak-anak sekolah dilatih perhitungan matematis yang kurang berguna daripada mengajarkan manfaat perhitungan tersebut untuk kegunaan yang nyata, maka selama itu pula pendidikan di sekolah belum berhasil.

Apabila kita melihat dunia pendidikan dalam prakteknya, masih banyak dijumpai guru-guru yang beranggapan, bahwa pekerjaan mereka tidak lebih dari menumpahkan air ke dalam gelas kosong. Guru yang benar-benar dapat berhasil adalah guru yang menyadari bahwa dia mengajarkan sesuatu kepada manusia-manusia yang berharga dan berkembang. Dengan bekal kesadaran semacam ini di kalangan para pendidik, hal itu sudah memberikan harapan agar guru-guru menghormati pekerjaan mereka sebagai guru. Pekerjaan guru adalah lebih bersifat psikologis daripada pekerjan seorang dokter, insinyur atau ahli hukum. Untuk itu, guru hendaknya tidak jemu dengan pekerjaannya, meskipun dia tidak dapat menentukan atau meramalkan secara tegas tantang bentuk manusia yang bagaimanakan yang akan dihasilkannya kelak di kemudian hari.

Sekolah-sekolah yang menekankan disiplin ketat terhadap murid-murid di kelas serta menjadikan displin sebagai alat vital untuk menyampikan bahan pelajaran kepada murid-murid, maka sekolah-sekolah semacam itu belum memberi tempat yang terhormat terhadapa psikologi dalam pendidikan. Disiplin pada hakikatnya hanya salah satu metode dalam pengajaran guna menumbuhkan kepatuhan pada anak didik.

Kepatuhan memang perlu, tetapi kepatuhan itu sendiri hendaknya tidak sepihak. Kepatuhan sebaiknya terjadi secara timbal balik di antara semua pihak yang terlibat di dalam pendidikan, baik itu anak didik, pendidik, kurikulum, maupun fasilitas pendidikan. Di sinilah letak pentingnya psikologi dalam pendidikan. Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan perlu mengarahkan perhatian kepada sifat dan hakikat anak didik, sehingga pelayanan pengajaran mebuahkan pribadi pribadi yang berkembang secara efektif.

Berdasarkan uraian di atas, pengetahuan psikologis tentang anak didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para pendidik, bahkan bagi setiap orang yang menyadari peranannya sebagai pendidik. (*)
Read More......

Dinas Pendidikan tidak Membeda-bedakan Sekolah

KabarIndonesia - Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi melalui Gubernur Jambi Drs. H. Hasan Basri Agus, MM priode 2011-2015 bertekad mewujudkan visi JAMBI EMAS (ekonomi maju, adil, aman, dan sejahtera) 2015, salah satunya dengan meningkatkan kwalitas sumberdaya manusia (SDM), sehubungan dengan itu Dinas Pendidikan Provinsi Jambi akan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan secara merata dan bertahap.


Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Drs. Idham Kholid, ME, Sabtu (29/1) pada acara peluncuran Antologi Cerpen “Kesomobongan Fira”, bertempat di Yayasan Pendidikan Nurul Ilmi, di jalan Julius Usman Kelurahan Pematang Sulur Kota Jambi.

Ditegaskan Kepala Dinas pendidikan Provinsi Jambi, Menyadari betapa pentingnya pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar sebagai fondasi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, maka pada tahun 2011 ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, atas arahan Gubernur Jambi dan dukungan legislatif, terumata Komisi IV DPRD Provinsi Jambi, akan berupaya memperbaiki dan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan secara merata dan bertahap, tanpa membeda-bedakan sekolah negeri dan swasta, seperti rehabilitasi ruang kelas, pembangunan ruang penunjang lainnya, dan melengkapi media pembelajaran pada beberapa SD dan SMP.

Disamping itu jelas Kadis Pendidikan Provinsi Jambi, untuk mendukung kualitas pembelajaran, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi akan mengadakan berbagai diklat kompetensi guru, baik di tingkat provinsi, nasional dan bahkan kerjasama dengan proveder (perusahaan penyedia jasa) diklat tingkat internasional.

Disamping itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jambi juga akan memperkuat eksistensi Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang dibina Kementrian Pendidikan Nasional RI, maupun yang dibina Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota. Untuk menjamin keberlangsungan dan kesempatan masyarakat kurang mampu untuk memperoleh pendidikan, gubernur Jambi telah mencanangkan program SAMISAKE (satu milyar satu kecamatan), yang didalamnya termasuk pemberian bea siswa bagi masyarakat miskin, ujar Idham Kholid.

Read More......

Kamis, 27 Januari 2011

Kapitalisme Pendidikan

Sudah rahasia umum jika pendidikan sekarang sangat mahal. Yah seperti kata buku, orang miskin dilarang sekolah! Memprihatinkan, tapi itulah kenyataannya. Masuk TK saja bisa mencapai ratusan ribu maupun jutaan rupiah, belum lagi kalo masuk SD-SMP-SMA-Universitas yang favorit. Kalau dihitung, seseorang yang masuk TK sampai dengan universitas yang favorit akan menghabiskan 100 juta lebih. Wow!
Sekolah memang harus mahal, itulah stigma yang tertanam di benak sebagian orang, dari orang awam dan bahkan sampai beberapa pejabat depdiknas. benarkah demikian??? Itu adalah omongan sesat, mereka yang bicara ngelantur begitu sudah pasti tidak pernah lihat kondisi luar. Malaysia, Jerman, bahkan Kuba sekalipun bisa membuat pendidikannya sangat murah dan dapat diaksese oleh sebagian besar lapisan masyarakatnya.
Pendidikan yang kapitalistik sekarang ini, yang bertujuan bisnislah yang membuat biaya-biaya membengkak. Pendidikan diserahkan sebagian kontolnya kepada swasta karena pemerintah yang kurang becus. Ada baiknya swasta ikut mengatur pendidikan sehingga masyarakat pun bisa berperan dalam lembaga pendidikan, tapi walau bagaimanapun ini bukan berarti bahwa pemerintah lepas tangan begitu saja. Ya, kan??? Pendidikan instan ala swasta yang mementingkan bisnis kjadi masalah besar buat dunia pendidikan. kadang terbaca di iklan-iklan, lembaga pendidikan yang menawarkan lulus cepat+absen tidak dihitung+dapat ijazah+dll. Sepertinya, yang penting bagi pendidikan hanyalah dapat ijazah buat kerja saja. Padahal pendidikan ditujukan untuk membangun moral individu dan tingkat pengetahuannya.
Lalu bagaimana caranya agar pendidikan bisa murah?? Wah, ini bukan persoalan gampang,dan jelas butuh pemikiran mendalam. Biar dipikir dan merenung dahulu. Tidak dituliskan disini, karena bakal sangat panjang juga.
Read More......

Diskriminasi Pendidikan

Rasa-rasanya rasa muakku sudah sampai pada puncaknya.

Setelah membaca rubrik Humaniora di harianKompas edisi hari ini, aku menjadi semakin jengkelsaja dengan kebijakan sistem pendidikan di Indonesia yang kian lama kian wagu saja. Akhir-akhir ini rubrik Humaniora
Kompas memang banyak menyoroti tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Diawali dengan pemberitaan mengenai ide cemerlang dari salah seorang ketua RW di salah satu desa di Sala Tiga yang dengan kreatifnya menggagas sebuah sekolah alternatif untuk siswa SLTP dengan konsep sekolah terbukanya sampai pada kegilaan mungkin lebih tepat jika disebut kebodohan dari pemerintah mengenai rancangan sistem jalur pendidikan yang baru.

Dalam sistem pendidikan yang baru ini pemerintah akan membagi jalur pendidikan menjadi dua jalur besar, yaitu jalur formal standar dan jalur formal mandiri. Pembagian jalur ini berdasarkan perbedaan kemampuan akademik dan finansial siswa. Jalur formal mandiri diperuntukkan bagi siswa yang mapan secara akademik maupun finansial. Sedangkan jalur formal standar diperuntukkan bagi siswa yang secara finansial bisa dikatakan kurang bahkan tidak mampu.

Dengan kata lain jalur formal mandiri adalah jalur bagi siswa kaya sedangkan jalur formal standar adalah jalur bagi siswa miskin. Konyol memang. Aku sampai tidak habis pikir bisa-bisanya pendidikan dikotak-kotakkan berdasarkan tingkat fianansial dari peserta didik. Dalam hal ini, pemerintah berdalih bahwa pada jalur formal mandiri akan disediakan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu miskin agar dapat menuntut ilmu pada jalur ini. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah Berapa banyak sich beasiswa yang disediakan?.

Pemerintah sendiri menyatakan bahwa setidaknya akan ada lima persen siswa miskin yang bersekolah di setiap sekolah yang menyelenggarakan jalur formal mandiri. Menurut ku ini juga merupakan salah satu bentuk kebodohan yang lain. Coba saja kita bayangkan seandainya ada seorang siswa miskin yang memperoleh beasiswa untuk bersekolah di jalur formal mandiri yang nota bene tempat sekolahnya siswa kaya. Bukankah kondisi seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi minder dan rendah diri. Ketika teman-temannya selalu mengenakan seragam yang bersih dan tersetrika dengan rapi dengan menggunakan pelembut dan pewangi pakaian sedangakan siswa miskin ini hanya mampu mengenakan seragam bekas alias hibahan dari tetangganya, bukankah kondisi seperti ini malah menjadikan siswa miskin ini menjadi objek tontonan bagi siswa-siswa kaya?

Apakah pembagian jalur pendidikan ini merupakan salah satu misi pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa?

Menurutku, pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi bangsa kita dalam mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Aku cukup salut dengan pemerintah Kamboja dan Thailand yang mulai berbenah diri dengan berfokus pada pendidikan warga negaranya. Kedua negara ini mulai merintis pendidikan gratis bagi warga nya. Pemerintah Kamboja sendiri mulai mengalihkan sembilan belas persen dari total anggarannya yang biasanya digunakan sebagai angaran militer untuk mendukung pengembangan pendidikan.

Lantas bagai mana dengan visi dan misi pendidikan di Indonesia? Mau dibawa ke mana pendidikan di Negara kita? Apakah pendidikan sudah menjadi barang dagangan yang nantinya menghasilkan outputan berupa selembar sertifikat dan ijazah bukannya keahlian dan daya analitis? Dan apakah pendidikan hanya menjadi milik dan hak orang kaya saja?

Apakah memang orang miskin dilarang sekolah?
Read More......

Hakikat Pendidikan

Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan?


Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.

Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh" lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata : IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.

Apa sebaiknya hakikat pendidikan? saya setuju dengan kata mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis. kata mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1) cerdas (2) hidup (3) bangsa.

(1) tentang cerdas
Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.

(2) tentang hidup
Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan snatainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.

(3) tentang bangsa
Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Era globalisasi memang mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karena segala sesuatunya terasa dekat. Saat terjadi perang Irak misalnya, seakan-akan kita bisa melihat Irak di dalam rumah. Tapi masalahnya, apakah kita mampu berperan aktif secara nyata untuk Irak (selain dengan doa ataupun aksi)? Peran aktif kita dituntut untuk masyarakat sekitar...dan siapakah masyarakat sekitar? tidak lain adalah individu sebangsa.

inilah sekelumit tulisan yang saya jadikan pokok pemikiran buat apa itu hakikat pendidikan sebenarnya.
Read More......

Gelar....Mabuknya Pendidikan

Sekali lagi, Indonesia dihadapkan pada kasus yang mencoreng nama pendidikan. Kasus jual beli gelar yang dipraktekkan oleh IMGI. Cara memperoleh gelar ini sangatlah mudah, Anda tinggal menyetor 10-25 juta, dan Anda dapat gelar yang Anda inginkan..Tinggal pilih..
.apakah S1, S2, atau S3....benar-benar edan! Sebagian orang mabuk kepayang akan nilai gelar yang memabukkan. Dan tidak tanggung-tanggung yang pernah membeli gelar dari IMGI ini...sekitar 5000 orang.

Ini adalah protet buram masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas. Dengan titel, seakan-akan masa depan lebih mudah. Padahal, nasib ditentukan oleh kerja keras...dan sebagian masyarakat Indonesia mencari jalan pintas. Tak heran, jika kasus wakil rakyat yang melakukan jual beli gelar agar kelihatan mentereng menyeruak di mana-mana. Dan dengan kepala kosong, mereka mencoba mengkonsepsikan pemerintahan Indonesia. Apa yang terjadi? Undang-undang sekedar lobi-lobi politik dimana semuanya UUD (ujung-ujungnya duit).

Tidakkah kita semua miris lihat kenyataan ini? Lalu apa gunanya gelar kalau ternyata dia hanya kedok belaka?
Read More......